37 Jalan Hidup Seorang Bodhisattva

i. Kini karena aku telah memiliki hal yang sangat sukar untuk diperoleh yaitu kelahiran sebagai manusia dan tubuh manusia yang sangat berharga, ibarat perahu yang agung. Aku harus menyeberangkan diriku dan yang lain menyeberangi Samudera samsara (alam – alam penderitaan). Karena itu, sepanjang siang dan malam tanpa kemalasan. * Mendengarkan, berintrospeksi, dan bermeditasi merupakan praktek seorang Bodhisattva.
ii. Gairah karena perasaan duniawi terhadap sahabat bergejolak seperti ombak. Kebencian terhadap musuh, membakar menyala – nyala seperti api. Kegelapan batin dan pikiran akibat ketidaktahuan membuat orang lupa, hal apa yang harus dilaksanakannya dan hal apa yang harus dihindarinya. * Menjauhkan suasana lingkungan seperti itu, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
iii. Tinggalkan tempat – tempat yang merugikan, kemalangan pun akan menghilang dengan sendirinya. Tak terganggu, kegiatan bermanfaat pun lahir dengan sendirinya. Melalui kesadaran nan jernih, keyakinan akan Dharma pun lahir dengan sendirinya. * Berdiam dalam penyunyian, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
iv. Kita kan berpisah dengan sanak famili dan sahabat yang telah lama kita kenal. Harta yang kita kumpulkan dengan susah payah, akan kita tinggalkan saat meninggal. Kesadaran ibarat tamu yang akan meninggalkan tubuh jasmani, seperti seorang tamu yang akan meninggalkan wisma tamu untuk melanjutkan perjalanannya. * Membuang konsep hidup duniawi, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
v. Bila engkau berteman dengan seseorang dan tiga racun batinmu (Lobha, Dosa, dan Moha) meningkat, Sedangkan kegiatan mendengarkan, berintrospeksi, dan bermeditasi mengalami kemerosotan, Berarti orang yang kau kira temanmu itu sesungguhnya merupakan orang yang menghancurkan semangat cinta kasih dan belas kasih (maitri Karuna). * Meninggalkan teman yang buruk seperti ini, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
vi. Bila engkau bersama dengan seseorang dan perbuatan burukmu berakhir, kebajikan, dan kebaikan akan meningkat seperti bulan yang membesar, seorang sahabat spiritual sejati seperti ini. * Menghargai dia melebihi dirimu sendiri, merupakan praktek seorang Bidhisatva.
vii. Para Dewa duniawi pun masih terperangkap dalam Samsara (Lingkaran kehidupan yang penuh penderitaan) yang mirip penjara bagi semua makhluk, jadi, mereka juga tak dapat melindungi siapa pun. Karena itu berlindunglah pada Tri Ratna: Buddha, Dharma, dan Sangha, yang tak akan pernah menipu. * Berlindung pada Tri Ratna Yang Mulia dan Tertinggi, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
viii. ”Sangat sukar ditanggung, derita di alam – alam rendah (Alam Neraka, Peta, dan hewan) hasil berbagai karma buruk,” demikian Sabda Sang Buddha. Karena itu, jika harus berkorban nyawa * Jangan pernah melakukan perbuatan jahat, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
ix. Kebahagiaan di lingkaran kehidupan seperti setetes embun di ujung sehelai daun. Karena dapat musnah dalam sekejap. Keadaan kebebasan yang tertinggi adalah tingkat Ke-Buddha-an yang tak pernah berubah. * Berjuang untuk mencapai tingkat tersebut, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
x. Sejak waktu yang tanpa awal, mereka telah menyayangi aku, Para ibuku – jika mereka menderita, apakah artinya kebahagiaanku sendiri? Karena itu, untuk membebaskan makhluk semesta yang jumlahnya tak terbatas (yang semuanya pernah menjadi ibu kita dalam jutaan kelahiran yang pernah kita alami sejak waktu yang tanpa awal) * Mengembangkan pikiran dan prilaku yang mulia (Bodhicitta), merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xi. Semua penderitaan tanpa kecuali, muncul akibat melekat pada kebahagiaan kita sendiri. Para Buddha yang sempurna terlahir dari niat untuk memberikan manfaat bagi sesama (Semua makhluk). * Karena itu dengan sungguh – sungguh memberikan kebahagiaan kita sendiri sebagai ganti penderitaan sesama, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xii. Bahkan apabila seseorang terdorong oleh keinginan mencuri semua kekayaanku atau menghasut seseorang untuk mencuri, tubuh, harta, dan kebajikanku di tiga masa. * Melimpahkan semua itu kepadanya, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xiii. Sekalipun aku sendiri tidak melakukan kesalahan, yang terkecil sekalipun, bahkan jika seseorang hendak memenggal kepalaku, tetap saja, dengan kekuatan belas kasih. * Mengambil alih karma buruk orang itu, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xiv. Bila seseorang hendak menyebarluaskan banyak hal yang tak menyenangkan tentang diriku ke sejuta dunia, tetap saja dengan pikiran penuh cinta kasih. * Sebagai jawaban balasan, memuji kelebihan – kelebihan orang itu, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xv. Jika seorang ditengah khalayak ramai hendak membeberkan kesalahanku dan memfitnahku, Aku harus menganggapnya sebagai seorang Sahabat Spiritual, dan * Membungkuk dengan penuh Hormat, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xvi. Seseorang yang kusayangi seperti anakku sendiri, Jika orang ini menganggap dan memperlakukan aku seperti musuhnya, Maka seperti seorang ibu yang anaknya terserang penyakit * Mencintai orang itu bahkan lebih dalam lagi, merupakan praktek seorang Bodhisattva
xvii. Bahkan jika seseorang, terdorong oleh harga diri yang tinggi, membuat standar dan perbandingan agar dapat menghina diriku, dengan penghormatan seperti bila aku menghormati seorang Lama (Guru) * Aku akan menghormatinya dan meninggikannya di atas kepalaku, merupakan praktek seorang Bodhisattva
xviii. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, dipandang rendah, dan dihina orang lain, terserang berbagai penyakit, dan makhluk jahat, tetap saja di puncak semua itu. * Mengambil alih karma buruk dan penderitaan setiap makhluk lain serta memikulnya tanpa menjadi patah semangat, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xix. Sekalipun termasyhur, terkemuka, dan dihormati banyak orang, berlimpah kekayaan seperti Dewa Harta, * Memandang semua gemerlap duniawi, mengetahui bahwa itu tanpa inti dan karenanya tidak menjadi tinggi hati, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xx. Jika aku belum dapat menaklukkan musuh yang berupa kemarahanku sendiri, Berusaha untuk menaklukkan para musuh di luar diriku hanya akan membuat mereka berlipat ganda. Karena itu, dengan senjata Maitri dan Karuna (Cinta Kasih dan Belas Kasih) * Menaklukkan pikiranku sendiri, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxi. Kesenangan indrawi sama seperti air asin, Makin banyak kau nikmati, kemelekatanmu akan makin meningkat. Hal apa pun yang menyebabkan timbulnya kemelekatan. * Menghentikannya dengan segera, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxii. Penampakan sebagaimana itu terlihat, semuanya pikiran orang itu sendiri. Pada mulanya, hakikat batin dari pikiran itu terbebas dari kepura – puraan. Mengetahui hal ini – dalam karakteristik yang dipaham dan yang memahami. * Tidak melibatkan pikiran, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxiii. Ketika engkau menemukan hal – hal yang menyenangkan bagi pikiranmu, Hal – hal itu hanya seperti pelangi pada musim panas. Sekalipun tampak begitu indah – mengetahui bahwa itu tidak nyata karenanya * menghentikan kemelekatan, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxiv. Semua penderitaan yang beragam, sesungguhnya seperti penderitaan yang kau rasakan ketika engkau bermimpi bahwa putramu sedang sekarat. Menganggap semua penampakan sebagai hal yang nyata – Oh, betapa meletihkan! Karena itu, kapan saja engkau penjumpai keadaan yang tidak menyenangkan * Menganggap mereka sebagai suatu khayalan belaka, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxv. Mereka yang menginginkan pencerahan bahkan harus mengorbankan tubuh mereka. Apa lagi memberikan benda – benda lainnya – hal ini tidak perlu dijelaskan! Karena itu, tanpa mengharapkan balasan atau penuaian buah karma baik. * Memberi dengan murah hati, penuh kedermawanan adalah dana paramita yang merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxvi. Tanpa disiplin, engkau tak akan menyempurnakan kebebasanmu sendiri. Dan kemudian berharap dapat membebaskan yang lain juga – itu hanyalah sebuah angan – angan! Karena itu, disiplin diri tanpa mengharapkan keberadaan duniawi. * Melindungi dan mempertahankan disiplin adalah Sila Paramita yang merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxvii. Bagi seorang Bodhisattva yang menginginkan harta berupa kebajikan yang melimpah, Semua hal yang mengganggu, bagaikan harta karun yang sangat berharga. Karena itu, kesabaran, tanpa rasa sakit hati dan dendam terhadap siapa pun. * Memupuk kesabaran seperti ini adalah Ksanti Paramita yang merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxviii. Bahkan para Sravaka dan PratyekaBuddha yang hanya berlatih demi kebahagiaan pribadi mereka. Berusaha dengan sangat keras, seakan – akan seperti harus memadamkan api yang membakar rambutnya. Usaha yang dilakukan dengan penuh kegembiraan merupakan sumber dari semua sifat luhur yang dapat memberi manfaat bagi semua makhluk. * Berjuang dengan usaha seperti ini adalah Virya Paramitha yang merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxix. Vipassana yang sepenuhnya disatukan dengan Samantha, sepenuhnya menaklukkan semua hambatan. Mengetahui ini, meditasi seimbang melampaui keempat keadaan tanpa bentuk. * Bermeditasi seperti itu adalah Dhyana Paramitha.
xxx. Tanpa pengetahuan yang luas, hanya dengan lima Paramitha lainnya, Tidaklah mungkin mencapai Pencerahan Sempurna. Karena itu pengetahuan hanya merupakan sarana dan mengerti tidak adanya jati diri dari subjek, objek, dan benda atau perbuatannya. * Memupuk pengetahuan dengan cara sepeti ini adalah Prajna Paramitha yang merupakan praktek seornag Bodhisattva.
xxxi. Jika aku belum menganalisa khayalanku sendiri, Mengatasnamakan Dharma, aku mungkin akan bertindak dalam cara yang bukan Dharma. Karena itu * Menganalisa khayalanku sendiri secara terus menerus dan berkesinambungan dan kemudian menghentikan khayalan – khayalan tersebut, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxxii. Karena kekuatan penghalang, jika aku berbicara tentang kesalahan para Bodhisattva lainnya, aku sendiri akan mengalami kemerosotan. Karena itu, terhadap seseorang yang telah menapaki Jalan Mahayana (Kendaraan Besar) * Jangan pernah membicarakan kesalahannya, merupakan praktek seorang Bodhisattva. (Tidak menodai Ucapan dengan membicarakan kesalahan sesama)
xxxiii. Terpengaruh oleh kekayaan dan kehormatan, aku akan berakhir saling membantah, dan kegiatan mendengarkan, berintrospeksi, serta bermeditasi akan mengalami kemerosotan. Terhadap keluarga dari para sahabat, kerabat, dan donatur. * Hentikan kemelakatan dan jangan melekat, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxxiv. Berbicara dengan kasar akan mengganggu pikiran orang lain. Dan tingkah laku Bodhisattva akan menurun. Karena itu kata – kata kasar tidak menyenangkan orang lain. * Jangan pernah mengeluarkan kata kata – kata kasar, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxxv. Keburukan yang sudah menjadi kebiasaan susah dihilangkan. Seseorang yang sadar dan sepenuhnya waspada akan menggenggam erat obat penyakit tersebut sebagai senjatanya.. * Membasmi penyakit seperti kemelekatan dan sejenisnya segera setelah mereka muncul, merupakan praktek seorang Bodhisattva.
xxxvi. Secara ringkas, di mana pun engkau berada, apa pun yang engkau lakukan, dalam semua cara bertindak, engkau harus selalu meneliti bagaimanakah keadaan pikiranmu yang sesungguhnya. Sepenuhnya sadar dan waspada secara terus – menerus dan berkesinambungan. * Demi menyempurnakan pembebasan agung makhluk lain, merupakan praktek seorang Budhisatva.
xxxvii. Pahala yang dikumpulkan melalui usaha seperti ini, demi untuk menghapuskan semua penderitaan dari semua makhluk yang tak terhingga, Dengan pengetahuan yang sangat murni, tentang tidak adanya subjuk, objek, dan benda atau perbuatannya. * Melimpahkan semua itu demi Pencerahan Sempurna, merupakan Praktek Seorang Bodhisattva.

Budidaya Singkong

1. SEJARAH SINGKAT
Ketela pohon atau singkong merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.

2. JENIS TANAMAN
Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup
Kelas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin.

Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa ditanam, antara lain: Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 4

3. MANFAAT TANAMAN
Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Dengan perkembangan teknologi, ketela pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.

4. SENTRA PENANAMAN
Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negara-negara sentra ketela pohon adalah Thailand dan Suriname. Sedangkan sentra utama ketela pohon di Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
a. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon antara 1.500-2.500 mm/tahun.
b. Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela kohon sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
c. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.
d. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

5.2. Media Tanam
a. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.
b. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
c. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

6. PEDOMAN BUDIDAYA
6. 1. Pembibitan
1. Persyaratan Bibit
Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
b. Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam.
c. Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus.
d. Belum tumbuh tunas-tunas baru.

2. Penyiapan Bibit
Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Bibit berupa stek batang.
b. Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c. Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25–30 batang stek.
d. Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

6.2. Pengolahan Media Tanam
1. Persiapan
Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:
a. Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan cairan pH tester.
b. Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
c. Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanamanlainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang sejenis.
d. Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume produksi diatur seminimal mungkin.

2. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor.

Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

3. Pembentukan Bedengan
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

4. Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

6.3 Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm.

2. Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

6.4. Pemeliharaan Tanaman
1. Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Pada umumnya petani maupun pengusaha mengganti tanaman yang mati dengan sisa bibit yang ada. Bibit sulaman yang baik seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. Saat penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman sulaman.

2. Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.

3. Pembubunan
Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.

4. Perempalan/Pemangkasan
Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.

5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.

6. Pengairan dan Penyiraman
Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
a. Uret (Xylenthropus)
Ciri: berada dalam akar dari tanaman.
Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.
Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.

b. Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)
Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut.
Gejala: daun akan menjadi kering.
Pengendalian:menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

7.2. Penyakit
a. Bercak daun bakteri
Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight / CBG .
Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati.
Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun

b. Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
Ciri: hidup di daun, akar dan batang.
Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk.
Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

c. Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab: jamur / cendawan yang hidup di dalam daun.
Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati.
Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.

d. Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)
Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.
Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.
Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .

7.3. Gulma
Sistem penyiangan/ pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman.

Khusus gulma dari golongan teki (Cyperus sp.) dapat di berantas dengan cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati.

Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan (Cynodon dactilon), rumput pahit (Paspalum distichum), dan rumput sunduk gangsir (digitaria ciliaris). Pembasmian gulma dari golongan rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

8. P A N E N
8.1. Ciri dan Umur Panen
Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telah mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam.

8.2. Cara Panen
Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.

9. PASCA PANEN
9.1. Pengumpulan
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Pemilihan atau penyortiran umbi ketela pohon sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran umbi ketela pohon dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi.

9.3. Penyimpanan
Cara penyimpanan hasil panen umbi ketela pohon dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a) Buat lubang di dalam tanah untuk tempat penyimpanan umbi segar ketela pohon tersebut. Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah umbi yang akan disimpan.
b) Alasi dasar lubang dengan jerami atau daun-daun, misalnya dengan daun nangka atau daun ketela pohon itu sendiri.
c) Masukkan umbi ketela pohon secara tersusun dan teratur secara berlapis kemudian masing-masing lapisan tutup dengan daun-daunan segar tersebut di atas atau jerami.
d) Terakhir timbun lubang berisi umbi ketela pohon tersebut sampai lubang permukaan tertutup berbentuk cembung, dan sistem penyimpanan seperti ini cukup awet dan membuat umbi tetap segar seperti aslinya.

9.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan umbi ketela pohon bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/ dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. Khusus untuk pemasaran antar pulau maupun diekspor, biasanya umbi ketela pohon ini dikemas dalam bentuk gaplek atau dijadikan tepung tapioka. Kemasan selanjutnya dapat disimpan dalam karton ataupun plastik-plastik dalam perbagai ukuran, sesuai permintaan produsen.

Setelah dikemas umbi ketela pohon dalam bentuk segar maupun dalam bentuk gaplek ataupun tapioka diangkut dengan alat trasportasi baik tradisional maupun modern ke pihak konsumen, baik dalam maupun luar negeri.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN SINGKONG
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya singkong seluas 1 hektar pola monokultur dalam satu musim tanam (8 bulan), dengan jarak tanam 100 X 100 cm (populasi + 9.998 tanaman) untuk daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah:

1) Biaya produksi
1. Sewa lahan per musim (lahan kering) Rp.500.000,-
2. Bibit + 11.000 stek @ Rp 30,- Rp.330.000,-
3. Pupuk
- Urea: 200 kg @ Rp 1.000,-: Rp.200.000,-
- TSP: 100 kg @ Rp 1.800,- : Rp.180.000,-
- KCl: 200 kg @ Rp 1.650,- : Rp.330.000,-
4. Pestisida: 2 kg (liter) @ Rp 50.000,- Rp.100.000,-
5. Pajak dan peralatan Rp.300.000,-
6. Tenaga kerja
- Pengolahan lahan 70 HKP @ Rp 10.000,- =Rp.700.000,-
- Penanaman 5 HKP + 10 HKW =Rp.125.000,-
- Pemupukan 10 HKP +25 HKW =Rp.287.500,-
- Penyiangan dan pembubunan 20 HKP + 20 HKW = Rp.350.000,-
7. Panen dan pasca panen Rp.250.000,-
Jumlah biaya produksi Rp.3.652.500,-

2) Pendapatan 30.000 kg @ Rp 125,- Rp. 4.500.000,-
3) Keuntungan Rp. 847.500,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. Rasio Out/Input =1,232
Catatan : HKP (Hari Kerja Pria); HKW (Hari Kerja Wanita)

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Di pasar Indonesia, produksi ketela pohon rata-rata mencapai 8,24 ton/ha (data tahun 1969-1978). Tahun 1983-1991 rata-rata mencapai 11,43 ton/ha.

Peningkatan produksi umbi ketela pohon kurun waktu 1988-1992 terjadi karena adanya peningkatan rata-rata hasil per hektar. Walaupun demikian, rata-rata produktivitas usaha tani ketela pohon di tingkat petani (3 ton/ha) masih lebih rendah dibandingkan dengan potensi hasilnya (6-10 ton/ha). Luas panen komoditas ketela pohon yang cenderung terus menurun selama kurun waktu tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap produksi total. Sementara itu, sekitar 58% dari total luas panen per tahun masih tersebar di Pulau Jawa.

Dari segi ekspor, selama periode 1990-1994 ekspor ketela pohon Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar. Bila pada tahun 1990, ekspor ketela pohon adalah sebanyak 100 ton, maka pada tahun 1994 jumlah tersebut sudah menjadi 500 ton. Permintaan ketela pohon dalam bentuk tapioka maupun gaplek pada tahun-tahun yang akan datang diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk usaha agribisnis ketela pohon.

11. STANDAR PRODUKSI
11.1. Ruang Lingkup
Standar produksi ini meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan dan rekomendasi untuk tapioka.

11.2. Deskripsi
Standar mutu ketela pohon (tepung tapioka) di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-345-1994.

11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu
Syarat mutu terdiri dari dua bagian :
a) Syarat organoleptik
1. Sehat (sound).
2. Tidak berbau apek atau masam.
3. Murni.
4. Tidak kelihatan ampas dan/atau bahan asing.

b) Syarat Teknis
1. Kadar air maksimum (%): mutu I=15; mutu II=15; mutu III=15.
2. Kadar abu maksimum (%): mutu I=0,60; mutu II=0,60; mutu III=0,60.
3. Serat dan benda asing maksimum (%): mutu I=0,60; mutu II=0,60; mutu III=0,60.
4. Derajat putih minimum (BaSO4=100%) (%): mutu I=94,5; mutu II=92,0; mutu III=92.
5. Kekentalan (Engler): mutu I=3-4; mutu II=2,5-3; mutu III 6. Derajat asam maksimum (Ml IN Na): mutu I=3; mutu II=3; mutu III=3.
7. Cemaran logam: ** OH/100 gram
- Timbal (Pb) (mg/kg): mutu I=1,0; mutu II=1,0; mutu III=1,0.
- Tembaga (Cu) (mg/kg): mutu I=10,0; mutu II=10,0; mutu III=10,0.
- Seng (Zn) (mg/kg): mutu I=40; mutu II=40; mutu III=40.
- Raksa (Hg) (mg/kg): mutu I=0,05; mutu II=0,05; mutu III=0,05.
8. Arsen (AS) ** (mg/kg): mutu I=0,5; mutu II=0,5; mutu III=0,5.
9. Cemara Mikroba:**
- Angka lempeng total maksimum (koloni/gram): mutu I=1,0 x100; mutu I=1,0×100; mutu III=1,0×100.
- E. Coli maksimum(koloni/gram): mutu I=10; mutu II=10; mutu III=10.
- Kapang maksimum (koloni/gram): mutu I=1,0×104 ; mutu II=1,0×104; mutu III=1,0×104.

Keterangan:
** Dipersyaratkan bila dipergunakan sebagai bahan makanan.
1. Kadar air ialah jumlah kandungan air yang terdapat dalam ketela pohon dinyatakan dalam persen dari berat bahan.
2. Kadar abu ialah banyaknya abu yang tersisa apabila tapioka dipijar pada suhu 500 derajat C yang dinyatakan dalam persen berat bahan.
3. Serat, ialah bagian dari tapioka dalam bentuk cellulosa dan dinyatakan dalam persen berat bahan.
4. Benda asing ialah semua benda lain (pasir, kayu, kerikil, logam-logam kecil) yang tercampur pada ketela pohon, dinyatakan dalam persen dari berat bahan.
5. Derajat putih, ialah tingkat atau derajat keputihan dari pada ketela pohon yang dibandingkan dengan derajat putih BaSO4 = 100 % dinyatakan dalam angka.
6. Kekentalan ialah derajat kekentalanm dari pada larutan ketela pohon dinyatakan dengan derajat Elger.
7. Derajat asam ialah derajat asam pada ketela pohon yang dinyatakan dalam mililiter per gram.

Untuk mendapatkan mutu singkong yang sesuai dengan standar maka harus dilakukan pengujian mutu singkong yang diantaranya adalah :

a) Kadar air: timbang dengan teliti kira-kira 5 gram contoh, tempatkan dalam cawan porselen/silika/platina panaskan dalam oven dengan suhu 105 ± 1 derajat C selama 5 jam. Dinginkan dalam eksikator sampai tercapai suhu kamar, lalu timbang. Panaskan lagi 30 menit lalu dinginkan dalam eksikator. Ulangi pengerjaan tersebut 3-4 kali sampai diperoleh berat antara 2 penimbangan berturut-turut lebih kecil dari 0,001 gram.

b) Kadar abu: timbang 5 gram contoh kedalam cawan porselen,/silika/platina yang sudah ditimbang beratnya. Pijarkan cawan berisi contoh diatas pembakar mecer kira-kira 1 jam, mula-mula api kecil lalu api dibesarkan sampai terjadi perubahan contoh menjadi arang. Sempurnakan pemijaran arang didalam tanur pada suhu 580-620 derajat C sampai menjadi abu. Pindahkan cawan dalam tanur kedalam oven pada pada suhu sekitar 100 derajat C, selama 1 jam. Dinginkan cawan berisi abu dalam eksikator sampai tercapai suhu kamar antara 15-30 derajat C, lalu timbang. Ulangi pengerjaan pemijaran dan pendinginan, sehingga diperoleh perbedaan berat antara dua pertimbangan berturut-turut lebih kecil daripada 0,001 gram.

c) Kadar serat dan benda asing: timbang kira-kira 2,5 gram contoh yang telah dikeringkalalu dituangkan kedalam labu dengan ditambah asam sulfat encer 1,25% yang telah dididih sebanyak 200 ml, pasangkan segera labu dengan pendingin balik yang dialiri air. Panaskan abu hingga mendidih selama 30 menit, pada saat mendidih sesekali labu digoyangkan agar semua contoh terasam dan tidak terjadi gosong pada dinding dalam labu. Tanggalkan labu, lalu saring dengan kain halus 18 serat/cm yang dipasang pada corong penyaring. Cuci residu dengan air mendidih sampai filtrat bersifat netral dan 200 ml larutan natrium hidroksida lalu pindahkan residu di atas kain kedalam labu. Didihkan kembali labu selama 30 menit, lalu tanggalkan labu dan segera saring dengan kain saring kemudian cuci residu dengan air mendidih sampai filtrat bersifat netral. Pindahkan residu kedalam cawan Gooch yang telah dilapisi serat asbes dibantu pompa air, cuci residu dengan air panas dan dibilas dengan 15 ml etil alkohol 95 %. Keringkan cawan dan isinya pada suhu 104-106 derajat C dalam oven, kemudian dinginkan hingga tercapai suhu kamar, lalu ditimbang. Ulangi pengeringan dan penurunan suhu dalam eksikator 2-3 kali masing-masing 30 menit hingga mencapai bobot tetap. Pijarkan cawan gooch dan isinya pada suhu 580–620 derajat C sampai menjadi abu lalu tempatkan dalam oven (suhu ± 100 derajat C) selama 30 menit, dinginkan dalam eksikator sampai suhu kamar, lalu timbang. Ulangi pengeringan dan penurunan suhu dalam eksikator 2-3 kali, masing masing 30 menit hingga diperoleh bobot tetap (W2).

d) Derajat Putih: tuangkan BaSO4 murni kedalam cuvet dan tentukan reflaktan pada skala 100, lalu tuangkan contoh kedalam cuvet lainnya.

e) Derajat kekentalan Engler: timbang 10 gram bahan, tuangkan edalam gelas piala (500 ml) lalu tambahkan 100 ml etanol 70 % yang sudah dinetralkan dengan indikator phenol ptalein, lalu kocok selama 1 jam pada alat penggosok mekanik natrium hidroksida 0,1 N. Saring dengan cepat melalui kertas saring kering, pipet 50 ml saring, tuangkan kedalam erlenmeyer 500 ml dan titar saringan dengan larutan natrium hidroksida 0,1 N dengan indikator phenol ptalein.

f) Cemaran logam: masukan contoh kedalam erlenmeyer 250 ml, 10 ml H2SO4, 0,5 gram KMn04 dan direfluks hingga mendidih serta warna violet hilang. Tamabah 0,2 gram KMn04 dan pemanas diteruskan hingga KMn04 1,5 gram. Didihkan kembali selama 5 menit, dinginkan dan tambahkan Hydroxylamine Hydrochoride samapi warna hilang, setelah itu tambahkan 1 ml Hydroxylamine hydrochoride dan 2 ml asam asetan, pindahkan larutan kedalam labu pemisah tambahkan 10 ml larutan Dhitizone, kocok selama 2 menit. Pindahkan lapisan chloroform ke dalam corong pemisah yang mengandung 25 ml NH40H kemudian kocok, cuci dengan 10 ml H2S04 IN dan buat larutan baku (larutkan 0,9155 grm Pb Ac2 3H20 dalam air, tambahkan 5 ml HNO3 encerkan 500 ml dengan air), dari larutan ini diambil 1 ml diencerkan menjadi 100 ml.

Sedangkan cara uji tembaga dan seng, raksa, arsen, angka lempeng total, bakteri coliform dan eschericia coli sesuai dengan SNI 01–3451–1994, tapioka.

11.4. Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan maksimum maksimum 30 karung. Pengambilan contoh dilakukan beberapa kali, sampai mencapai berat 500 gram. Contoh kemudian disegel dan diberi label. Petugas pengambil contoh harus orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu.

11.5. Pengemasan
Tapioka dikemas dengan karung goni baru jenis ATWILL/Blacu yang baik, bersih, cukup memenuhi syarat eksport, mulutnya dijahit dengan kuat. Isi paling banyak untuk karung blacu 50 kg bersih, atau karung goni maksimum 100 kg/bersih. Dibagian luar kemasan ditulis dengan bahan yang tidak mudah luntur, jelas terbaca, antara lain:
a) Produksi Indonesia.
b) Nama barang atau jenis barang.
c) Nama perusahaan atau ekspiotir.
d) Berat bersih.
e) Berat kotor.
f) Negara/tempat tujuan.

12. DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Agribisnis Departemen Pertanian. 1999. Investasi Agribisnis Komoditas Unggulan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kanisius. Yogyakarta.
2. Danarti dan Sri Najiyati. 1998. Palawija, Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Penerbit Swadaya, Jakarta.
3. Rahmat Rukmana, H. Ir. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pasca Panen. Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI), Yogyakarta.

Sumber : Bappenas

Tuberkulosis: Cara dan Resiko Penularannya

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

Cara penularan:
Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif (BTA= basil tahan asam).
Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

Risiko penularan
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.
ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.
Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.

Risiko menjadi sakit TB
Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.
Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.
Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).
HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

Faktor risiko kejadian TB, secara ringkas digambarkan pada gambar berikut:
TB

Pasien yang tidak diobati, setelah 5 tahun, akan:
- 50% meninggal,
- 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi,
- 25% menjadi kasus kronis yang tetap menular.

sumber: smallcrab

Penyebab dan Cara Mengatasi Uban

Munculnya rambut putih merupakan gejala adanya gangguan sintesa protein. Sel melanosit jadi tak mampu lagi menghasilkan pigmen (melanin) sehingga rambut menjadi kehilangan warna. Proses kejadian ini seringkali dihubungkan dengan bertambahnya usia. Namun ada juga penyebab lain yang bisa mendorong munculnya uban walau usia masih muda.

Faktor genetik merupakan faktor pencetus yang cukup kuat. Jika ayah atau ibu Anda sudah beruban ketika menginjak usia 30-an, Anda pun kemungkinan besar akan mengalami hal yang sama.

Stres, kurang gizi, syok, kekhawatiran atau kesedihan yang terlalu dalam, ketegangan, dan sakit keras juga bisa memperlambat produksi melanin sehingga muncullah rambut putih atau uban.

Ada yang percaya bahwa kalau uban kita cabut, maka uban yang muncul akan semakin banyak. Ini hanya mitos saja. Saat ada satu uban muncul, berarti pertanda ada masalah dengan produksi melanin. Dengan demikian, pada saat uban dicabut, kemungkinan besar memang sudah ada beberapa uban lain yang akan tumbuh.

Berikut sejumlah tips untuk paling tidak memperlambat laju tumbuhnya uban.

- Usapkan campuran minyak kelapa dan air jeruk nipis pada rambut dan remas-remas dan biarkan selama 15 menit sebelum dibilas. Banyak wanita yang melakukan hal ini setiap hari, rambutnya bisa tetap hitam sampai usia 60-an.

- Ambil secangkir teh yang pekat dan tambahkan satu sendok makan garam. Setelah dingin, tuangkan rata ke rambut dan pijat-pijat kulit kepala. Biarkan selama satu jam, lalu bilas dengan air dingin tanpa sampo.

- Untuk menghitamkan rambut yang sudah terlanjur beruban, ada produk alami dari tumbuhan di India, yaitu henna atau di sini dikenal sebagai pacar rambut.

- Memberi nutrisi yang cukup pada rambut. Vitamin A membantu menjaga kesehatan kulit kepala dan membuat rambut lebih bersinar. Vitamin A banyak terdapat dalam sayuran hijau, dan buah-buahan berwarna merah dan kuning.

- Vitamin B berperan dalam melancarkan produksi minyak untuk menjaga kelembaban dan kesehatan rambut. Vitamin B banyak terdapat dalam sayuran hijau daun, sereal, hati, yogurt, pisang.

- Mineral yang esensial bagi rambut adalah zinc, zat besi, dan copper. Banyak terdapat pada daging, ayam, sayuran, telur, biji-bijian, dan makanan laut (sea food).

- Protein, terutama nabati amat penting untuk menjaga tekstur rambut dan membuatnya tetap bersinar. Banyak terdapat dalam biji-bijian, terutama kedelai.

#dari berbagai sumber

Mahluk Alam Peta Patut Dikasihani

membagi cerita ini demi kebaikan saya post aja anak buah saya orang agama tetangga, dan kebetulan mempunyai mata bathin, sudah cukup lama dia tahu bahwa Setan mustii di usir, di takuti, di kutuk, suatu saat, dia menyupiri saya ke kampung melayu, saya ke hotel Casablanca, dan waktu pulang saya mampir di taman untuk minum es kelapa

pada suatu saat, saya tanya padanya pak coba bapak lihat ke bawah pohon sebelah situ, saya meminta. setelah dia menoleh saya lihat mukanya ngak merasa takut, cuma agak begong,

saya tanya kenapa? dijawabnya kok setan ada di siang hari?
saya bilang dalam buddhis itu namanya peta, bapak takut? saya tanya ngaklah katanya….(sambil cerita bisa apa dia)

kalo gitu, anda mau dengar saya tanya dia(peta tsb)

singkatnya; PETA itu sudah mati kira-kira 60-68 tahun yang lalu, dulu dia sebagai preman (tukang pukul) tidak melakukan amal ibadah, tidak berdana sekarang, PETA ini hampir telanjang, badanya hitam, rambut panjang tidak terurus (gimbal jorok gitu) muka seram bercaling,

saya bilang di agama kamu mahluk ini harus di usir, dihancurkan dan di kutuk?
nah setelah anda dengar sendiri, cerita apa dibalik kelahiran sebagai peta, gimana, DIA BINGUNG!

mungkin mereka percaya alam kehidupan hanya ada 4, alam kandungan, alam fana, alam kubur, alam akherat (surga neraka) titik, ngak ada tuh kelahiran sebagai PETA.

Kalo umat budhis ketemu ginian akan
1, berbuat baik, menghindari perbuatan tidak baik, karena bisa membuktikan alam PETA itu benar-benar ada dan kamma memang berbuah sesuai, perbuatanya
2, yakin akan ajaran buddha damma mengenai alam kehidupan, dsb,,,,,,,dsb

oh, ya saya tanya berapa lama kalau kamu tahu jangka hidupmu di alam peta jawabnya 5,000 tahun (manusia, bumi) setelah pembicaraan kami, saya patidanakan paritta, supaya menjadi pakaian, anak buah saya kaget, memang bajunya ganti katanya saya patidanakan paritta untuk makananya, dia melihat makanan juga

akhirnya dia bicara ke saya setelah lama kami terdiam;
memang yah emang susah kalo di agama saya ngak bisa lihat, jadi suka fanatik ngak karuan katanya, setelah lihat ini mahluk saya ngak menggangap mereka sebagai pengacau, pengoda tapi kasihan ya;
ngak punya pakaian
ngak punya makanan
ngak punya rumah,(pohon itu sebagai tempat tinggal, kaya gembel)
ngak punya saudara, menderita selama 5.000 tahun, lalu dia tanya kesaya
mengenai neraka,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!

semoga bermanfaat,,,

Sumber: Kantaviriya, Forum Dhammacakka, http://www.dhammacakka.org/forum/archive/index.php?t-4008.html

Renungan oleh Master Choa

Suatu waktu dalam pengamatanku,
manusia sungguh pendek umurnya,

setiap aku melihat bayi aku berpikir
betapa rapuhnya bayi ini
setiap aku melihat anak balita bermain aku berpikir
sunguh pendek masa kepolosan mereka sebagai anak

setiap aku melihat anak remaja aku berpikir
sebentar lagi mereka menjadi ayah atau seorang ibu
setiap aku melihat seorang ayah dan seorang ibu aku berpikir
sengguh berat kerja mereka dalam memelihara anak-anak mereka

setiap aku melihat orang yang sedang mengalami penderitaan
aku melihat mereka mengalaminya seperti penderitaan itu tiada akhir
setiap aku melihat manusia-manusia yang berbahagia karena mereka dapat menikmati kehidupan yang enak yang dapat di lakukan manusia
aku melihat mereka lupa akan waktu

lalu aku melihat para manula yang sudah uzur dan renta
aku melihat, bahkan dengan usia mereka yg tingal sedikit mereka masih melakukan kebiasaan manusia yang melekat akan ketidak tahuan, akan apa yang seharusnya mereka lalukan
bahkan dengan usia mereka yang sudah renta, ada di antara mereka masih melakukan kejahatan yang tidak pantas mereka lakukan
aku melihat bahkan para manula ini yang sudah matang hidup didunia masih bingung apa yang seharusnya mereka lakukan

lalu aku melihat diriku
kedalam diriku,
aku tenang bahwa aku tidak seperti manusia kebanyakan itu

oleh Master Choa @jan2012

Gong Xi Fat Cai

Hrdaya Usnisa Vijaya Mantra

–Mantra Hati Usnisa Vijaya Dharani–
Om Amirta Tejo Vati Svaha

NAMO USNISA VIJAYA DHARANI
(Terpujilah Dharani Mahkota Kemenangan Buddha)
NAMO SARVA TATHAGATA
(Terpujilah Semua Yang Telah Datang)
NAMO MAHAKARUNIKAYA SARVA TATHAGATA TRAILOKA PUJITO
TADYATHA:”OM AMIRTA TEJO VATI SVAHA”!

Sutra ini telah saya, Ananda, mendengar sendiri daripada Bhagavan Buddha.
Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, Bhagavan Buddha berdiam di Shravasti di Jetavana, dalam Taman Anathapindaka (orang yang berkebajikan terhadap anak yatim piatu dan mereka yang tinggal berseorangan), bersama pengikut-pengikut tetap-Nya yang terdiri daripada seribu dua ratus lima puluh Maha Bhiksu dan dua belas ribu Sangha Maha Bodhisattva kesemuanya.
Ketika itu juga, dewa-dewa Surga Trayastrimsa telah mengadakan perhimpunan di Dewan Dharma Sempurna. Di antara mereka yang hadir ialah Dewaputra Tusita. Bersama dewaputra-dewaputra lain, Dewaputra Tusita turut bersuka ria di dalam dewan serta di luar, di halaman, taman bunga dan menara, asyik menikmati kebahagiaan hidup surga. Mereka sangat gembira, menyanyi-nyanyi, menari-nari menghibur diri bersama dewi-dewi surga.

Sejurus malam menjelma, Dewaputra Tusita tiba-tiba mendengar suara di angkasa yang berkata, “Dewaputra Tusita, engkau hanya akan hidup selama tujuh hari lagi. Selepas mangkat, engkau akan dilahir semula di Jambu-dvipa (Bumi), sebagai binatang selama tujuh hayat berturut-turut. Kemudian, akan jatuhlah kamu ke alam neraka untuk menderita lagi. Hanya setelah menerima karmamu, barulah akan engkau lahir semula dalam dunia manusia, tetapi ke dalam keluarga terhina dan miskin. Semasa dalam kandungan ibu, engkau tidak akan mempunyai mata, dan buta apabila lahir.”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Dewaputra Tusita begitu takut sehingga tegak bulu romanya. Dengan hati yang diselubungi risau dan derita, Dewaputra Tusita lantas berkejar ke istana Dewaraja Sakra (Raja Dewata di Surga Trayastrimsa), Sambil menangis sekuat hati karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, Dewaputra Tusita pun bersujud di kaki Dewaraja Sakra lalu memberitahu Dewaraja Sakra tentang apa yang telah berlaku.

“Sewaktu hamba asyik menghayati lagu dan tarian bersama dewi-dewi surga, tiba-tiba hamba mendengar suara di angkasa yang berkata bahwa hidup hamba tinggal tujuh hari saja, dan kemudian hamba akan lahir semula sebagai binatang dalam dunia Jambu-dvipa selama tujuh hayat berturut-turut. Setelah itu, hamba akan terjerumus ke alam neraka untuk menderita lagi. Setelah penghukuman karma hamba selesai, barulah hamba akan lahir semula dalam dunia manusia. Walau demikian, hamba akan lahir cacat tanpa mata dalam keluarga miskin dan terhina. Raja Surga, bagaimanakah dapat hamba melepaskan diri daripada penderitaan ini?”

Dewaraja Sakra merasa sungguh heran dan terkejut atas penjelasan dan ratapan Dewaputra Tusita itu. Hati kecilnya berfikir, “Dalam tujuh haluan buruk dan rupa buruk manakah akan Dewaputra Tusita ini dilahirkan semula berturut-turut?”

Dewaraja Sakra dengan serta-merta menenangkan mindanya untuk memasuki keadaan Samadhi lalu membuat pemerhatian teliti. Dengan segera, Dewaraja Sakra mendapati bahwa Dewaputra Tusita akan dilahir semula tujuh kali berturut-turut dalam haluan buruk berupa babi, anjing, musang, monyet, ular sawah, gagak serta burung nasar, kesemuanya yang hidup memakan makanan kotor dan busuk. Setelah memperhatikan bakal keadaan tujuh rupa lahir Dewaputra Tusita, hati Dewaraja Sakra hancur dan penuh duka, tetapi Dewaraja Sakra berikhtiar untuk menolong Dewaputra Tusita. Raja Sakra berpendapat bahwa hanya Tathagata, Arhat, Samyak-sambuddha sajalah yang dapat menyelamatkan Dewaputra Tusita dari penderitaan haluan buruk yang bakal menimpanya.

Maka, awal malam hari itu, Dewaraja Sakra telah menyediakan berbagai jenis bunga malai serta wangi-wangian. Selepas menjubahi diri dengan pakaian dewa yang halus, Dewaraja Sakra membawa barang pemujaannya ke Taman Anathapindaka, tempat penginapan Bhagawan Buddha. Sesampainya di sana, Dewaraja Sakra mula-mula bersujud di kaki Bhagavan Buddha sebagai tanda memberi hormat, kemudian memuja Bhagavan dengan berjalan perlahan-lahan mengelilingi-Nya tujuh kali mengikut arah jam, sebelum membentangkan puja (barang-barang penyembahan) Dewaraja Sakra yang mewah itu. Sambil berlutut di hadapan Bhagavan, Dewaraja Sakra telah menerangkan dan menguraikan nasib Dewaputra Tusita yang bakal terjerumus ke haluan buruk, dengan tujuh hayat lahir-semula berturut-turut dalam rupa binatang, dan hal yang akan menimpanya selepas kesemua itu.

Dengan serta-merta, dari usnisa (puncak silara) Tathagata, berbagai sinaran cahaya memancar dan menerangi seluruh penjuru dunia dalam kesemua sepuluh arah, lalu memantul mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali sebelum kembali ke mulut-Nya. Selepas itu, Bhagavan Buddha tersenyum dan bersabda kepada Dewaraja Sakra.

“Raja Surga, dengarlah dengan penuh perhatian. Pada waktu asamkhyeya yang tidak terkira dahulu, terdapat seorang Buddha yang bergelar Vipasyin, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah Sadar, Yang Dihormati Dunia, lengkap dengan sepuluh gelaran bagi seorang Buddha. Selepas afiniti untuk menyelamatkan makhluk-makhluk di dunia ini berakhir, Vipasyin Buddha telah memasuki Maha Parinirvana. Pada Zaman Dharma Imej Buddha itu, terdapat sebuah negara yang dikenali sebagai Varanasi. Di dalam negara tersebut, terdapat seorang Brahmin yang telah meninggal dunia sejurus selepas isterinya melahirkan seorang cahaya mata lelaki. Anak yatim ini dibesarkan sepenuhnya oleh ibunya. Setelah dewasa, dia bersawah untuk memenuhi hidup. Namun, disebabkan mereka amat miskin, ibunya terpaksa mengemis merata-rata untuk mendapatkan makanan bagi anaknya.

Pada suatu hari, ibunya gagal mendapatkan makanan dan waktu makan juga telah berlalu. Anaknya menjadi marah lalu mendendami ibunya disebabkan kelaparan dan kehausan. Dengan api kemarahan yang marak, dia tidak henti-hentinya menyalahkan ibunya, “Mengapakah ibu belum mengantarkan makanan ke sini pada hari ini?”

Lantas, dia mengutuk lagi, “Cis! Ibu saya tidak pun layak dibandingkan dengan binatang. Saya melihat babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta burung nesar semuanya menjaga dan membesarkan anak-anak dengan begitu penuh belas kasihan. Anak-anak tidak dibiarkan kelaparan atau kehausan, malah tidak seketika pun ditinggalkan. Mengapakah ibu saya masih belum datang? Saya sudah merasa amat lapar dan haus sedangkan ibu masih belum mengantarkan makanan ke sini!”

Tidak lama selepas hatinya menaruh dendam, ibunya segera memohon makanan lantas bergegas ke sawah sambil mebujuk anaknya supaya ia tidak marah. Mereka baru saja mau duduk dan makan, tiba-tiba, seorang Pratyekabuddha muncul dalam rupa seorang Bhiksu, dan terbang di angkasa dari arah selatan ke utara. Anak yatim ini melihat fenomena yang ganjil tersebut lalu merasa hormat dan kagum. Dia dengan segera bangun dan menyusunkan kedua telapak tangannya bersama lalu bersujud penuh sambil menjemput Pratyekabuddha itu turun. Pada masa itu, Pratyekabuddha itu telah menerima jemputannya. Dia amat gembira dan giat menyediakan tempat duduk dengan lalang putih. Selain itu, dengan penuh hormat, dia telah mempersembahkan bunga yang bersih dan suci, serta sebagian makanannya kepada Pratyekabuddha itu dengan dua belah tangan. Selepas makan, Bhiksu itu menkhutbahkan ajaran penting Dharma Buddha kepadanya agar dia merasa sukacita. Atas sebab dan afiniti ini, anak yatim tersebut kemudian menjadi Sramanera dan juga dilantik sebagai Bhiksu yang menguruskan urusan dalam Vihara.

Pada waktu itu, seorang Brahmin telah mendirikan sebuah Vihara untuk penginapan para Sangha. Seorang lagi penderma pula menghadiahkan banyak mentega dan makanan kepada mereka. Secara kebetulan, terdapat banyak Bhiksu mengembara yang menetap di situ dan sedang makan pada masa itu, Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu setelah melihat keadaan tersebut lalu timbul perasaan benci dan tamak. Dia menganggap para Bhiksu yang mengembara itu sebagai orang yang amat menyusahkan dan menimbulkan masalah. Oleh karena itu, dia telah menyimpan semua mentega dan makanan yang dihadiahkan lalu tidak membenarkan mereka makan. Karena hal demikian, Bhiksu yang mengembara itu telah mempersoalkannya, “Persembahan ini telah dimaksudkan untuk semua ahli Sangha yang berada di dalam Vihara. Mengapa kamu menyimpan persembahan makanan tersebut dan tidak membenarkan semua orang memakannya? ”

Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu merasa benci dan melepaskan kemarahannya, “Kamu semua, Bhiksu yang mengembara, mengapa kamu tidak makan saja najis dan kencing? Kenapa kamu mau meminta mentega? Sudahkah mata kamu menjadi buta? Apakah kamu melihat saya menyembunyikan mentega itu?” Bhagavan Buddha memberitahu Dewaraja Sakra, “Anak yatim lelaki Brahmin pada waktu itu ialah Dewaputra Tusita sekarang. Disebabkan dia mendendami dan membandingkan ibunya dengan binatang, kini dia akan menerima pembalasan dalam rupa hewan untuk tujuh hayat berturut-turut. Ada lagi, sewaktu dia menjadi Bhiksu yang mengurus urusan Vihara, dia telah mengeluarkan ucapan-ucapan memakan najis dan kencing yang kotor. Pada pembalasan karmanya ialah dia akan selalu makan makanan yang tidak bersih. Karena tamak dan tidak mau memberi makanan yang disembahkan kepada para Sangha, dia akan menderita di alam neraka. Sebagai pembalasan memarahi Sangha,dia akan buta, dia tidak akan mempunyai mata. Untuk tujuh ratus hayat, dia akan sentiasa buta dan hidup dalam kegelapan serta mengalami kesengsaraan yang amat.

Raja Surga! Kamu harus sadar bahwa karma-karma buruk begini pasti akan menerima pembalasan akibat kelakuan buruknya. Dosa ini tidak mungkin luntur atau dihapuskan.

Yang keduanya, Raja Surga! Kebahagiaan hidup di surga yang dinikmati Dewaputra Tusita adalah disebabkan ia pernah membuat persembahan kepada Pratyekabuddha, menyediakan tempat duduk, mempersembahkan bunga, mendermakan makanannya dengan penuh hormat dan pernah mendengar Dharma Buddha. Setelah kalpa yang tidak terkira banyaknya berlalu, dia masih dapat mengecapi kebahagiaan yang agung dan tiada ada tandingannya. Di samping itu, sewaktu Pratyekabuddha terbang melintasi langit, dia telah memandang ke atas dan melahirkan perasaan penuh hormat lalu bersujud penuh. Disebabkan kebaktian dan jasa ini, dia telah diberitahu terlebih dahulu akan pembalasannya oleh suara dewa dari langit. Dewa itu sebenarnya ialah Dewa Istana Dewaputra Tusita!”

“Raja Surga, ada sekarang Dharani yang dikenal sebagai ?Usnisa Vijaya Dharani?. Dharani ini dapat mensucikan segala karma buruk dan menghapus segala sengsara kelahiran dan kematian. Di samping itu, Dharani ini boleh membebaskan segala makhluk dari alam neraka, alam Raja Yama dan alam binatang daripada mengalami kesengsaraan, memusnahkan semua alam neraka dan membolehkan makhluk-makhluk berubah haluan ke haluan suci.

“Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Usnisa Vijaya Dharani ini walaupun hanya sekali, segala karma buruk dari kehidupan dahulunya (yang patut menyebabkannya terjerumus ke alam neraka) akan dimusnahkan semuanya. Sebaliknya, ia juga akan memperoleh badan yang suci dan halus. Tidak kira di mana ia lahir semula, ia akan mengingat Dharani ini dengan jelas dari satu Tanah Suci Buddha ke Tanah Suci Buddha yang lain, dari satu alam surga ke alam surga yang lain. Sesungguhnya, di seluruh Surga Trayastrimsa, di manapun ia lahir semula, tidak akan ia lupakan Dharani ini.”

“Raja Surga, sekiranya ada yang mengingati Dharani ini saat ia hampir meninggal dunia, walau hanya untuk seketika, umurnya akan dipanjangkan dan ia akan mengalami penyucian badan, ucapan dan pikiran.Ia akan menikmati kesejahteraan yang merata bersesuaian dengan jasanya, dan ia tidak akan sakit menderita. Sambil menerima pahala dari semua Tathagata, dilindungi semua dewa surga dan Bodhisattva, ia akan dihormati serta dimuliakan oleh semua orang dan segala karma buruknya musnah.”

“Raja Surga, sekiranya ada yang dapat membaca atau menlafalkan Dharani ini dengan ikhlas walaupun untuk masa yang amat pendek, segala karma buruknya yang sepatutnya membawa penderitaan ke alam-alam neraka, alam Raja Yama, binatang, dan hantu kelaparan akan dimusnahkan sepenuhnya tanpa meninggalkan walaupun hanya sedikit karma buruk. la akan bebas untuk pergi ke mana-mana Tanah Suci Buddha dan istana-istana surga dan semua pintu kediaman Bodhisattva akan terbuka untuknya tanpa adanya halangan.”

Selepas mendengar khutbah tersebut, Dewaraja Sakra lantas memohon kepada Bhagavan Buddha, “Demi kepentingan segala makhluk, sudilah Bhagavan Buddha memberikan khutbah tentang cara-cara melanjutkan usia seseorang.”
Bhagavan Buddha mengetahui permohonan dan keinginan Dewaraja Sakra untuk mendengar khutbah-Nya tentang Dharani ini, lalu mengucapkan Mantra tersebut, seperti demikian:

“NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE. TADYATHA, OM, VISUDDHAYA-VISUDDHAYA, ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA- SPHARANA GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE, ABHISINCATU MAM. SUGATA VARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI. AHARA-AHARA AYUH SAM-DHARANI. SODHAYA-SODHAYA, GAGANA VISUDDHE. USNISA VIJAYA VISUDDHE. SAHASRA-RASMI,
SAMCODITE, SARVA TATHAGATA AVALOKANI, SAT-PARAMITA, PARIPURANI, SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI, PRATI-STHITE, SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE. VAJRA KAYA, SAM-HATANA VISUDDHE. SARVAVARANA APAYA DURGATI, PARI-VISUDDHE, PRATI-NIVARTAYA AYUH SUDDHE. SAMAYA ADHISTHITE. MANI-MANI MAHA MANI. TATHATA BHUTAKOTI PARISUDDHE. VISPHUTA BUDDHI SUDDHE.
JAYA-JAYA, VIJAYA-VIJAYA, SMARA-SMARA. SARVA BUDDHA ADHISTHITA SUDDHE. VAJRI VAJRAGARBHE, VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM. SARVA SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE. SARVA GATI PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU. SARVA TATHAGATA SAMASVASA ADHISTHITE, BUDDHYA-BUDDHYA, VIBUDDHYA-VIBUDDHYA, BODHAYA-BODHAYA, VIBODHAYA-VIBODHAYA. SAMANTA PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA.

=========Artinya========

Dharani Mahkota kemenangan Buddha

(Usnisa Vijaya Dharani)
Terpujilah Sang Maha suci yang terunggul didalam tiga dunia!
Terpujilah Sang Tercerahkan, untuk Sang Penolong!
yaitu:
Om! mensucikan, mensucikan! O Yang Selalu Adil! O Sang Penguasa yang meliputi semuanya,
semua cahaya penerangan, adalah murni kealamianNya,
mensucikan kegelapan pada lima bagian dari kehidupan!
Abhisekakan kami dengan nectar,O Yang Terbahagiah, dengan sebuah abhiseka abadi yang terdiri dari
kata-kata terbaik, ungkapan kebenaran yang Maha Agung!
hilangkan bencana, hilangkan bencana, O Sang Pemilik Keabadian!
sucikan kami, sucikan kami, O Yang Murni seperti langit!
O Yang murni bagaikan Mahkota Kemenangan Buddha!
O Yang bergelora dengan ribuan sinar cahaya!
O Semua Tathagata yang memeriksa dunia sempurna dalam enam Paramita!
O Sang Pemilik Materai yang diberi kuasa dengan tenaga batin yang berasal dari hati setiap Tathagata!
O Sang Pemilik Tubuh sekeras dan semurni Vajra!
O Yang sepenuhnya bersih,suci dari semua rintangan, semua ketakutan, dan semua bagian kejahatan!
Jauhkanlah kami semua dari kejahatan O Yang menikmati kehidupan suci!
O Yang memberikan kuasa kepada kami dengan perjanjian asli!
O Permata, Permata, Permata Agung! O Bagaikan yang sungguh terbatas dan sangat murni!
O Yang Suci didalam Pencerahan terkembang!
Jadilah Kemenangan,Jadilah Kemenangan, Jadilah Yang Telah Menang,Jadilah Yang Telah Menang!
Pertahankan didalam pikiran,pertahankan didalam pikiran!
O Sang Maha Suci Yang telah mendapat Kuasa dari Semua Buddha!
O Sang Vajragarbha yang memegang Vajra! Izinkan tubuh saya seperti Vajra!
Izinkan tubuh semua makhluk bagaikan Vajra juga!
O Sang Pemilik Tubuh yang Maha Suci!
O Yang Tersuci dari semua bagian kehidupan! Dan biarlah saya dihibur oleh Semua Tathagata!
O Yang mendapat kuasa dengan Tenaga Yang Menghibur dari Semua Yang Telah Datang!
Jadilah Tercerahkan, Jadilah Tercerahkan,Jadilah Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna,
Jadilah Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna!
Cerahkanlah mereka, Cerahkanlah mereka,tercerahkanlah mereka,tercerahkanlah mereka!
O Yang Tersuci didalam Jalan Yang Paling Sempurna!
O Sang Pemilik Materai yang diberi kuasa dengan tenaga batin yang berasal dari hati setiap Tathagata!
serukanlah!

===================
Kemudian Bhagavan Buddha mengingatkan kepada Dewaraja Sakra, “Mantra di atas dikenali sebagai ‘Usnisa Vijaya Dharani yang Menyucikan Segala Haluan Buruk’. Dharani ini berupaya mengatasi segala rintangan karma buruk dan menghapuskan semua derita haluan buruk.”

“Raja Surga, Dharani agung ini dikhutbahkan serentak oleh semua Buddha, sebanyak butiran pasir di dalam delapan puluh delapan ratus ribu koti Sungai Gangga. Semua Buddha menerima dan mengamalkan Dharani ini, yang telah diuji kebenarannya oleh Yang Arif Bijaksana Maha Vairocana Tathagata, dengan hati yang sukacita. Dharani ini diumumkan dengan tujuan menghilangkan segala penderitaan yang ditanggung oleh makhluk yang berada di dalam haluan buruk, untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan di alam neraka, alam binatang dan alam Raja Yama; untuk menyelamatkan makhluk yang sedang menghadapi bahaya terjerumus ke dalam kitaran kelahiran-kematian (samsara); untuk membantu makhluk yang tidak berdaya, yang mempunyai usia yang pendek, dan yang bernasib malang serta untuk menyelamatkan makhluk yang suka melakukan segala jenis perbuatan jahat. Ada lagi, kuasa yang menjelma akibat pengamalan Dharani ini dalam dunia Jambu-dvipa membolehkan makhluk di dalam alam neraka dan alam-alam buruk lain, yang bernasib malang dan berputar dalam kitaran kelahiran-kematian, yang tidak percaya akan wujud perbuatan baik dan buruk, dan yang menyimpang dari jalan benar, akan semuanya dibebaskan.”

Bhagavan Buddha mengingatkan Dewaraja Sakra sekali lagi, “Tathagata kini menitahkan Dharani sakti ini kepadamu. Haruslah engkau memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita. Di samping itu, haruslah engkau menerima dan berpegang kepadanya, membaca dan menglafalkannya, menghayatinya secara mendalam, menghargainya, menghafal dan menghormatinya. Mudra Dharani ini juga harus diumumkan secara meluas kepada semua makhluk di dalam dunia Jambu-dvipa. Tathagata juga mengamanahkan kepadamu, demi kebahagiaan semua makhluk surga, Mudra Dharani ini patut disebarkan. Raja Surga, engkau harus tekun melindungi dan berpegang kepadanya. Jangan biarkan Dharani ini hilang atau dilupakan.”

“Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Dharani ini walau hanya untuk seketika, ia tidak akan mengalami karma daripada karma buruk dan kesalahan berat yang terkumpul dari ribuan kalpa dahulu yang sepatutnya menyebabkannya berada dalam kitaran kelahiran-kematian – dalam segala rupa hidup haluan buruk – alam neraka, ‘ hantu-lapar’, binatang, dunia Raja Yama, Asura, Yaksa, Raksasa, Putana, Kataputana, Apasmara, hantu dan roh-roh, dalam rupa nyamuk dan agas, kura-kura, anjing, ular sawa, burung, binatang liar, hewan-hewan merangkak maupun semut dan bentuk kehidupan yang lain. Hasil daripada manfaat mendengar Dharani ini walau hanya seketika, selepas hidup ini, ia akan dilahirkan semula serta-merta di Tanah-Tanah Suci Buddha bersama dengan semua Buddha dan Ekajati-Pratibaddha Bodhisattva, atau di dalam keluarga Brahmin atau Ksatriya yang terkemuka, atau keluarga yang kaya dan berpengaruh yang lain. Raja Surga, disebabkan ia berkebajikan mendengar Dharani ini, ia akan dilahirkan semula dalam keluarga yang mewah dan dihormati, dan setelah itu, dilahirkan semula di tempat yang suci.”

“Raja Surga, apabila memperoleh Bodhimanda terhormat dan mulia juga adalah akibat yang dibawa semata-mata oleh pemujian kebaikan Dharani ini. Raja Surga, maka Dharani ini dikenal sebagai Dharani yang Membawa Berkah, yang boleh menyucikan segala haluan buruk. Usnisa Vijaya Dharani ini menyerupai Mutiara Mani yang terang bersinar – suci dan sempurna, jernih bagaikan langit dan kegemilangannya menyinar dan memancar ke seluruh pelosok dunia. Sekiranya makhluk-makhluk berpegang kepada Dharani ini, mereka akan turut menjadi suci dan terang. Dharani ini menyerupai emas Jambunada – terang, bersih dan lembut, tidak tercemar oleh kotoran, dan siapa saja yang melihatnya turut berkenan olehnya.

Raja Surga, makhluk yang berpegang kepada Dharani ini juga demikian suci dan murni. Mereka ini akan lahir semula dalam haluan suci berdasarkan kesucian dan amalan Dharani yang mengagumkan.”
“Raja Surga, di mana Dharani ini hadir, sekiranya Dharani ini boleh dicetak untuk kebahagiaan mahluk, disebarluaskan, diterima dan diamalkan, dibaca serta dilafalkan, didengar dan dihormati, hal ini akan menyucikan segala haluan buruk; penderitaan dan kesengsaraan di neraka-neraka akan hilang dengan sepenuhnya.”

Bhagavan Buddha bersabda dengan teliti kepada Dewaraja Sakra sekali lagi, “Sekiranya ada yang dapat menulis Dharani ini dan memaparkannya di atas panji-panji yang tinggi, gunung yang tinggi, bangunan yang tinggi ataupun menyimpannya di dalam stupa; Raja Surga, kalau ada Bhiksu atau Bhiksuni, Upasaka atau Upasika, kaum lelaki atau perempuan yang melihat Dharani sakti ini terbentang di atas struktur-struktur tersebut, atau struktur ini membayangi mereka yang menghampirinya, atau abu dari Dharani itu tertiup mengenai badan mereka; Raja Surga, menurut pengumpulan dosa dan karma buruk mereka, walaupun makhluk-makhluk ini sepatutnya jatuh ke dalam alam neraka, alam binatang, alam ‘ hantu-lapar’, alam Raja Yama, Asura dan sebagainya untuk menderita dalam haluan buruk, namun mereka tidak akan menanggung dosa-dosa ini dan juga tidak akan dicemari oleh keburukan moral. Raja Surga! Sebaliknya, semua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan Vyakarana (penetapan) kepada makhluk- makhluk ini, yang mereka akan menuju ke arah Anuttara-samyak-sambodhi (Penerangan Sempurna) dan tidak akan luntur keyakinannya.”

“Raja Syurga, malah kalau seseorang membuat berbagai penyembahan berbentuk kalungan bunga, wangi-wangian, panji-panji dan sepanduk, langit yang dihiasi permata, pakaian, kalungan permata dan sebagainya untuk menghiasi dan menghormati Dharani ini; dan sekiranya ada yang membangun stupa khusus untuk menyimpan Dharani ini di simpang jalan utama, dan kemudian berjalan mengelilingi stupa tersebut sambil menyusun kedua tapak tangan dalam tanda memberi hormat, serta bersujud menerima petunjuk ajaran Buddha, Dharma, dan Sangha; Raja Surga, mereka yang membuat penyembahan sedemikian akan digelari Mahasattva Agung, pengikut Bhagavan yang setia dan penyokong Dharma. Stupa-stupa sedemikian akan dianggap sebagai stupa sharira seluruh-jasad Tathagata.”

Pada saat itu, raja alam neraka, Raja Yama tiba di tempat penginapan Bhagavan Buddha pada awal malam. Mula-mula, dengan menggunakan pakaian dewa, bunga-bungaan yang cantik, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan lain, baginda telah memberi penghormatan dan membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha, sebelum berjalan mengelilingi Bhagavan Buddha sebanyak tujuh kali. Sambil bersujud penuh, baginda telah memeluk tapak kaki Bhagavan sebagai tanda hormat, kemudiannya berkata, “Hamba mendengar bahwa Tathagata sedang berkhutbah memuji amalan Dharani berkuasa ini; hamba datang karena ingin belajar dan seterusnya mengamalkannya. Hamba akan selalu melindungi makhluk yang menerima, membaca, melafazkan, dan mempraktikkan amalan Dharani berkuasa inl, dan menghalangi mereka dari terjatuh ke dalam alam neraka karena mereka telah mengikuti ajaran Tathagata.” Pada masa itu, keempat-Maha Raja Langit Pelindung Dunia – Catur-maharaja (Empat Raja Surga), telah mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali, lantas memohon dengan penuh hormat, “Bhagavan Buddha, sudilah Tathagata dapat menjelaskan dengan teliti cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini.”

Bhagavan Buddha pun berucap kepada Empat Raja Surga itu, “Dengarlah dengan penuh perhatian! Demi kepentinganmu dan juga kepentingan makhluk-makhluk berusia pendek, Tathagata akan berkhutbah tentang cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini.

“Mula-mula, seseorang itu harus memandikan diri dan memakai pakaian bersih yang baru, mematuhi dan mengamalkan sila dan melafalkan Dharani ini seribu kali pada hari bulan purnama – hari ke-15 bulan lunar. Ini akan membolehkan orang itu melanjutkan usianya dan sentiasa bebas daripada penderitaan akibat sakit. Semua halangan karmanya, termasuk yang boleh menyebabkannya menderita di alam neraka, akan dibasmikan kesemuanya. Jika burung, binatang dan makhluk lain mendengar Dharani ini walaupun sekali, selepas tamatnya hayat ini, mereka tidak akan lahir lagi dalam rupa badan yang kotor dan kasar begitu.”

Bhagavan Buddha meneruskan lagi, “Sekiranya ada yang menderita akibat penyakit setelah mendengar Dharani ini, ia akan senantiasa bebas dari penyakit tersebut. Semua penyakit yang lain turut dibasmi bersama dengan karma buruk yang sepatutnya menyebabkannya terjerumus ke haluan buruk. Selepas akhir hayat ini, ia akan lahir semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi. Dari hayat tersebut seterusnya, tidak akan ia lahir semula dari rahim. Sebaliknya, di mana jua ia lahir semula, ia akan menjelma dari bunga teratai. Ia akan selalu mengingat dan mengamalkan Dharani ini di samping mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan silamnya tidak kira mana ia dilahirkan.”

Bhagavan Buddha menambah kata, “Sekiranya ada yang telah melakukan berbagai kegiatan buruk dan dosa berat sebelum meninggal dunia, ia sudah tentunya akan terjerumus ke alam neraka, binatang atau ‘ hantu-lapar’, ataupun ke dalam Neraka Avici besar, atau lahir semula sebagai hewan air, atau dalam rupa burung dan binatang berdasarkan dosa-dosa yang dilakukannya selepas akhir hidupnya. Sekiranya ada orang yang kemudian mengambil sebahagian daripada tulang rangka mendiang, dan sambil memegang segenggam tanah, melafalkan Dharani ini 21 kali dan selepas itu ditaburkan pada tulang-tulang itu. Ini akan membolehkan mendiang lahir semula di surga.”

Bhagavan Buddha berucap lagi, “Sekiranya seseorang itu boleh melafalkan Dharani ini 21 kali sehari, ia berhak menerima segala pahala alam dunia, dan akan dilahirkan semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi selepas meninggal dunia. Sekiranya ia sering melafalkan Dharani ini, ia akan mencapai Maha Parinirvana dan berupaya melanjutkan usianya di samping menikmati hidup yang amat bahagia. Selepas hidup ini berakhir, ia akan lahir semula di salah satu Tanah Suci Buddha yang mengagumkan dan selalu didampingi oleh para Bhagavan Buddha. Kesemua Tathagata akan senantiasa berkhutbah tentang kebenaran mendalam Dharma yang mengagumkan, dan kesemua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan penetapan Kesadaran Mulia kepadanya. Cahaya yang memancar dari tubuhnya akan menyinari seluruh penjuru Tanah Suci Buddha”

Bhagavan Buddha menjelaskan lagi, “Untuk melafalkan Dharani ini, pada mulanya, seseorang itu harus menggunakan tanah yang bersih dan suci untuk membina tempat pemujaan empat segi yang ukurannya mengikut kemampuan masing-masing di hadapan Rupang Bhagavan Buddha. Setelah itu, orang itu harus menaburkan berbagai rumput- rampai dan bunga di atas tempat pemujaan itu, dan membakar berbagai jenis kemenyan bermutu. Kemudian, sambil berlutut dengan meletakkan lutut kanan di atas lantai, melafalkan nama Buddha dengan penuh konsentrasi dalam hati, dan meletakkan kedua belah tangan dalam bentuk simbol Mudrani (yaitu dengan membengkokkan jari penunjuk dan menekannya ke bawah menggunakan ibu jari; kedua belah tapak tangan dihadap dan diposisikan di hadapan dada) dengan penuh penghormatan, seseorang itu harus melafalkan Dharani tersebut sebanyak 108 kali. Kemudian, bunga-bungaan akan menghujani tempat pemujaan itu dari awan dan akan seterusnya dijadikan penyembahan universal kepada para Bhagavan Buddha sebanyak butiran pasir yang terdapat dalam delapan puluh delapan ratus ribu koti nayuta Sungai Gangga. Para Bhagavan Buddha akan memuji dengan serentak, “Unggul! Jarang sekali! Sesungguhnya beliau seorang pengikut Bhagavan Buddha yang setia!” Pada masa yang sama, dia akan mencapai Samadhi. Kebijaksanaan Yang Tidak Terhalang, dan Samadhi Yang Dihiasi Minda Maha Bodhi dengan serta-merta. Demikianlah cara untuk menepati amalan Dharani ini.”

Bhagavan Buddha menasihati Dewaraja Sakra lagi, “Raja Surga, Tathagata menggunakan pendekatan yang mudah ini untuk menyelamatkan makhluk yang sepatutnya terjerumus ke dalam neraka, untuk menyucikan semua haluan buruk, dan juga untuk melanjutkan usia makhluk yang mengamalkan Dharani ini. Raja Surga, kembalilah kamu sekarang dan maklumkanlah Dharani ini kepada Dewaputra Tusita. Selepas tempoh tujuh hari, datanglah bersamanya menghadap Tathagata”.

Pada masa itu, di tempat penginapan Bhagavan Buddha, Raja Surga menerima amalan Dharani ini dengan penuh penghormatan, dan kembali ke istana surganya untuk memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita.

Setelah menerima Dharani ini, Dewaputra Tusita mulai mengamalkannya sebagaimana yang ditunjuk selama enam hari dan enam malam. Selepas tempo itu, segala permintaannya telah ditunaikan. Karmanya yang sepatutnya menyebabkannya menderita dalam segala haluan buruk telah dihapuskan. la akan berkekalan pada haluan Bodhi dan hidupnya akan dipanjangkan untuk waktu yang tidak terhingga. Dengan demikian, Dewaputra Tusita pun sangat sukacita, lalu berseru dan memuji, “Tathagata yang Agung! Dharma yang Istimewa! Keberkesanannya terbukti dengan jelas! Jarang sekali! Sesungguhnya hamba telah diselamatkan dengan cara ini!”

Sehabisnya tempo tujuh hari itu, Dewaraja Sakra bersama Dewaputra Tusita dan makhluk-makhluk surga yang lain membawa bunga malai, wangi-wangian, kemenyan, panji-panji permata, lelangit yang dihiasi batu-batu permata, pakaian dewa dan kalungan permata, menghadap tempat penginapan Bhagavan Buddha dengan penuh penghormatan untuk membentangkan penyembahan yang agung ini. Setelah membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha, mereka pun mengelilingi Bhagavan Buddha seratus ribu kali sebagai tanda memberi hormat. Selepas menghadap dengan penuh takzim di hadapan Bhagavan Buddha, mereka mengambil tempat masing-masing untuk mendengar khutbah Dharma daripada Bhagavan Buddha dengan sukacitanya.

Kemudian Bhagavan Buddha mengulurkan tangan keemasan-Nya dan menyentuh puncak silara Dewaputra Tusita. Sang Sugata bukan saja berkhutbah Dharma kepadanya, tetapi juga mengaruniakan penetapan pencapaian Dewaputra Tusita ke Bodhi. Akhirnya Bhagavan Buddha bertitah, “Sutra ini akan dikenali sebagai Usnisa Vijaya Dharani yang Menyucikan Segala Haluan Buruk. Haruslah anda gigih berpegang kepada amalan ini.” Setelah mendengar demikian, semua yang berhimpun di situ merasa sangat sukacita. Mereka mempercayai, menerima dan mengamalkan Dharani ini dengan setia dan penuh penghormatan.

NAMO SIDDHARTA GOTAMA SAKYAMUNI BUDDHAYA
NAMO MAHA VAIROCANA TATHAGATA
NAMO VIPASYIN TATHAGATA

Diskon Belanja Online

Diskon hingga 50%

Kuliner, Hotel, Salon Kecantikan dan banyak lagi

https://www.dealkeren.comDiskon /jakarta/invitation/?s=1be354edef9635e4235

PUBLIC WARNING / PERINGATAN

OBAT TRADISIONAL DAN SUPLEMEN MAKANAN MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT

oleh BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Nomor : HM.03.03.1.43.08.10.8013
Jakarta, 13 Agustus 2010

URL: http://www.pom.go.id/public/peringatan_publik/pdf/HM.03.03.1.43.08.10.8013.pdf

Daftar Peringatan Publik oleh BPOM RI dapat dilihat pada link berikut: http://www.pom.go.id/public/peringatan_publik/default.asp

Health Fraud [Health scams]

“Kesehatan Mahal Harganya”, kalimat ini semakin sering kita dengar di segenap lapisan masyarakat sekarang ini. Bagaimana tidak? Anda bisa saja punya uang milyaran rupiah, namun bila anda tidak dalam keadaan sehat bisakah anda menikmati kekayaan anda tersebut?

Kesadaran masyarakat yang meningkat ini berdampak pada tumbuh pesatnya industri kesehatan sekunder. Industri kesehatan semacam ini menawarkan berbagai macam produk mulai dari produk relaksasi, produk penyaring air, produk pembersih udara dan juga produk-produk suplemen. Di antara industri-industri tersebut yang paling sering beriklan secara gencar adalah produk suplemen kesehatan.

Tak ada hari tanpa kita melihat iklan televisi maupun media cetak menayangkan produk suplemen ini. Beberapa memang merupakan khasiat yang sudah diakui dunia medis, seperti minyak ikan Cod yang membantu pertumbuhan dan vitamin C yang membantu menjaga imunitas tubuh.

Namun tak jarang pula beberapa suplemen diiklankan dengan sangat berlebihan dengan fakta medis yang sangat lemah, seperti suplemen kalsium yang bisa menyembuhkan kanker, cairan imun yang diteteskan di balik lidah yang bisa mengobati Hepatitis B, maupun sirup ekstrak tumbuhan yang bisa mengobati penyakit ini dan itu. Biasanya golongan kedua ini tidak menggunakan televisi ataupun media cetak sebagai media promosi mereka, mereka lebih memilih promosi mulut ke mulut demi mengurangi kemungkinan tuntutan yang mungkin terjadi.

Kita tentunya harus waspada pada golongan kedua ini. Bila kita termakan janji-janji akan “keajaiban” suplemen ini bisa saja bukannya tambah sehat malah akan berdampak buruk bagi kantong dan kesehatan kita.

Berikut ini akan penulis berikan rambu-rambu mengkonsumsi konsumen ini

a. Suplemen adalah sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam makanan kita
Suplemen sebenarnya adalah sesuatu yang terkandung dalam makanan kita, anda dapat menemukan vitamin C dalam jus jeruk segar, anda juga dapat menemukan serat sehat dalam sayur-sayuran anda, zat besi terdapat dalam sayuran dan hati ayam maupun sapi. Suplemen sebenarnya adalah suatu cara darurat untuk mengatasi kemungkinan pola makan anda yang kurang seimbang.
Bila anda bisa mencukupi kebutuhan nutrisi anda dari makanan sehari-hari anda maka sesungguhnya suplemen ini tidak diperlukan

b. Terdaftar di BPOM dan FDA
Seringkali ini merupakan senjata utama iklan produk-produk suplemen ini. Mari kita cermati kepanjangan dari masing-masing lembaga berikut.

BPOM = Badan Pengawas Obat dan Makanan,
FDA = Food and Drug Administration.

Lembaga-lembaga ini akan memberikan ijin asal produk mereka aman dikonsumsi. Jelaslah sudah suplemen ini digolongkan sebagai “makanan”, maka sebenarnya klaim untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tidak bisa diterima.

c. Suplemen yang baik mempunyai penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan
Suplemen yang baik pasti telah melalui serangkaian penelitian dengan metodologi yang baik sebelum dilepaskan ke pasaran. Suplemen kelas “abal-abal” biasanya hanya menyertakan testimoni dari pengguna produk mereka (yang kadang juga merupakan member penjual suplemen tersebut). Kadang mereka mencantumkan penelitian yang mengklaim khasiat suplemen mereka, namun penelitian ini ternyata tidak terdaftar di jurnal-jurnal terpercaya semacam NEJM (New England Journal of Medicine), AJCN (american journal of clinical nutrition)AMJMED, dsb. Klaim penelitian mereka hanya dipublikasikan di media-media di mana semua orang bisa mengungkapkan pendapat mereka seperti wordpress maupun website produk mereka sendiri.

Bukankah bila produk mereka benar-benar bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang selama ini masih merupakan momok di dunia medis mereka akan mendapatkan perhatian khusus dan bahkan mungkin hadiah Nobel? Mengapa kita sulit sekali menemukan jurnal medisnya? Kita patut curiga!!!

Note : Anda sebaiknya tidak mempercayai begitu saja sebuah testimoni, apalagi testimoni dari seseorang yang mendapatkan keuntungan dari testimoni tersebut.

Anda bisa mengecek keabsahan klaim mereka di web-web medis seperti http://content.nejm.org/ atau www.freemedicaljournals.com bila anda merasa bahasa yang digunakan dalam web tersebut terlalu rumit, anda bisa mencari di Wikipedia. Jangan menggunakan google karena klaim yang masuk google tidak disaring sehingga siapapun bisa memposting pendapatnya, walaupun tanpa dasar medis yang memadai.

d. Berhati-hatilah pada suplemen yang tidak berani mengiklankan produknya di media massa
Dengan memasukkan iklan anda ke media massa, berarti produk anda akan diawasi oleh Depkominfo, YLKI, dan kalangan medis dan professional. Produsen suplemen “abal-abal” seringkali menghindari iklan di media massa ini, mereka lebih memilih promosi dari mulut ke mulut ataupun melalui website atau brosur.

e. Tidak semua orang aman mengkonsumsi suplemen
Suplemen yang mendapat registrasi dari BPOM dan FDA tentu saja aman dikonsumsi orang sehat. Namun terdapat beberapa penyakit tertentu seperti penyakit ginjal, kanker, dsb yang mempunyai banyak sekali pantangan. Bahkan pisang pun dapat membunuh seorang penderita penyakit ginjal yang sudah parah. Jadi ada baiknya sebelum mengkonsumsi suplemen anda berkonsultasi dengan dokter anda.

Semoga bermanfaat.

Sumber : http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=di-balik-klaim-sesat-keajaiban-suplemen.html&Itemid=314

Beberapa web resmi yang juga mengingatkan bahayanya HOAX kesehatan ini:

http://www.fda.gov/ForConsumers/ProtectYourself/HealthFraud/default.htm

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/healthfraud.html

http://www.fda.gov/Drugs/EmergencyPreparedness/BioterrorismandDrugPreparedness/ucm137284.htm

PUBLIC WARNING / PERINGATAN: OBAT TRADISIONAL DAN SUPLEMEN MAKANAN MENGANDUNG BAHAN KIMIA OBAT oleh BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

URL: http://www.pom.go.id/public/peringatan_publik/pdf/HM.03.03.1.43.08.10.8013.pdf

Khasiat Mandi Matahari Pagi

Beberapa orang kadang takut terkena sinar matahari karena bisa membuat kulit jadi hitam. Tapi sebaiknya jangan hindari sinar matahari, karena ada banyak manfaatnya bagi kesehatan.

Para peneliti telah membuktikan bahwa ada banyak manfaat yang bisa didapat jika seseorang melakukan aktivitas di luar rumah dan mendapatkan sinar matahari yang cukup. Hal ini akan bermanfaat jika sinar matahari yang didapatkan saat pagi hari.

Berikut ini adalah beberapa manfaat dari sinar matahari bagi kesehatan, seperti dikutip dari Lifemojo.

1. Vitamin D
Sinar matahari merangsang tubuh untuk menghasilkan vitamin D. Sinar matahari yang mengenai wajah, leher, lengan dan kaki selama 10-15 menit bisa menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan tubuh. Vitamin ini meningkatkan penyerapan kalsium di usus dan transfer kalsium di membran sel yang berguna untuk kekuatan tulang.

2. Serotonin
Sinar matahari bisa merangsang produksi serotonin (neurotransmitter di otak yang mengatur suasana hati). Semakin tinggi serotonin yang dihasilkan maka suasana hatia kan lebih positif.

3. Melawan depresi
Sinar matahari melawan dan mengurangi depresi karena melepaskan endorfin yang berfungsi sebagai anti depresi alami dan sangat bermanfaat untuk kasus depresi musiman (seasonal affective disorder/SAD).

4. Meningkatkan sirkulasi darah
Sinar matahari meningkatkan sirkulasi darah dengan cara melebarkan pembuluh darah di kulit, sehingga membawa lebih banyak nutrisi dan oksigen ke sel-sel. Hal ini juga membuat jantung sehat dengan menurunkan denyut nadi dan mengurangi tekanan darah.

5. Bermanfaat untuk kulit
Kondisi kulit kronis seperti jerawat, eksim dan psoriasis mengalami perbaikan serta menurunkan manifestasi dari stretch mark, bekas luka serta gangguan kulit lainnya.

6. Mengurangi risiko kanker
Sintesis vitamin D dirangsang oleh sinar matahari sehingga secara signifikan membantu mengurangi risiko berbagai bentuk kanker seperti prostat, usus besar, payudara dan ovarium. Tapi ingat agar tidak berlebihan, karena justru bisa menyababkan kanker kulit.

7. Mencegah diabetes
Studi baru menunjukkan paparan sinar matahari yang cukup kemungkinan memainkan peran penting dalam membantu mencegah diabetes tipe 1 pada anak-anak, serta menurunkan kadar gula darah dengan menstimulasi penyimpanan kadar gula di otot dan hati.

8. Memperkuat sistem kekebalan tubuh
Sinar matahari mendukung sistem kekebalan tubuh, karena saat terpapar tubuh akan memproduksi lebih banyak sel darah putih yang membantu menangkal infeksi dan penyakit lain yang dihasilkan oleh bakteri, jamur atau virus.

9. Detoksifikasi tubuh
Sinar matahari memembantu mengeluarkan sampah dari dalam tubuh dengan meningkatkan fungsi hati, serta meningkatkan sirkulasi darah sehingga eliminasi sampah melalu darah lebih efisien.

10. Meningkatkan kualitas tidur
Sinar matahari meningkatkan produksi melatonin yang dibutuhkan agar kualitas tidur membaik. Melatonin diproduksi oleh kelenjar pineal, organ kecil seukuran kacang yang ditemukan di dasar otak.

11. Bermanfaat untuk perut
Sinar matahari baik untuk meningkatkan nafsu makan, meningkatkan sistem pencernaan serta proses metabolisme.

Tapi jika sudah terlalu siang, sebaiknya lindungi tubuh dari sinar matahari karena mengandung sinar ultraviolet yang bisa berbahaya bagi tubuh. Perlindungan bisa menggunakan topi, pakaian tertutup atau payung.

Sumber: www.detikhealth.com

Apel Turunkan Kadar LDL


Kolesterol selalu terkait dengan makanan-makanan enak dan gaya hidup yang sembarangan. Sementara untuk mengurangi kolesterol, kita harus bersusah payah menahan nafsu makan, melakukan olahraga rutin, bahkan hingga mengonsumsi berbagai obat-obatan. Namun, jika ada cara yang menyenangkan tentu Anda tidak akan mengeluh lagi.

Dalam penelitian sebelumnya, diketahui bahwa makan dua buah apel setiap harinya bisa mengurangi kolesterol hingga 10 persen. Dengan penambahan jumlah apel apakah efeknya juga akan berlipat ganda? Sepertinya demikian.

Wanita yang makan 75 gram apel setiap hari selama enam bulan menunjukkan level LDL- tipe kolesterol buruk turun hingga 25 persen. Tidak hanya itu, komponen lain penyebab penyakit jantung dan stroke juga ikut turun sementara kadar HDL naik hingga sekitar 4 persen. Bahkan walaupun setiap harinya mengonsumsi sekitar 240 kalori tambahan dari empat buah apel tersebut, berat rata-rata para wanita justru turun lebih dari 2 kilogram.

Manfaat tambahan akan didapatkan jika mengonsumsi apel segar. Penurunan LDL disebabkan kandungan antioksidan apel, sementara efek melangsingkan tubuh didapat dari serat buah dan juga pektin apel yang bisa mengurangi nafsu makan agar tidak berlebihan. Dengan rasa dan tekstur yang nikmat, empat buah apel tentu bukan masalah yang berat bagi Anda. Yuk, hidup sehat dengan nikmat!

RSS for Posts RSS for Comments